| Written by Muhaimin Iqbal |
| Thursday, 25 February 2010 06:55 |
Ada pemandangan baru yang sejak beberapa tahun ini mulai marak di café, restaurant, food court, bandara, terminal dan bahkan di emperan Masjid-masjid. Pemandangan ini adalah orang-orang yang tidak mengenal usia asyik ber-internet dengan berbagai keperluannya. Kebanyakan mungkin (masih) untuk sekedar main-main atau membuang waktu percuma; tetapi tidak sedikit pula diantara mereka yang sedang serius bekerja menangani hal-hal yang sangat produktif.
Para pekerja yang tidak lagi tergantung pada tempat dan waktu ini, mereka bisa bekerja kapan saja dan dimana saja asal bisa connect dengan internet . Melalui internet inipula pekerjaan mereka dilaporkan keatasannya, di share dengan mitra kerja, ditindak lanjuti sub-ordinate-nya; di responsekliennya dlsb.dlsb. pekerja generasi baru inilah yang disebut pekerja Digital Nomad.
Bagi perusahaan yang meng-optimalkan pekerja Digital Nomad ini bisa sangat diuntungkan karena tidak harus menyediakan kantor yang mahal, biaya transportasi, listrik dlsb. Bagi pekerja Digital Nomad sendiri, ini juga menjadi peluang tersendiri untuk bisa bekerja sesuai selera kapan dan dimana dia suka - hemat waktu dan biaya. Penghematan ini mulai dari waktu perjalanan ke kantor sampai biaya pakaian. Bagi pemerintah ini juga bisa menghasilkan penghematan yang luar biasa dalam bentuk berkurangnya kemacetan, kebutuhan listrik, bahan bakar dlsb.
Dahulu ketika saya masih ngantor di pusat kota misalnya, setiap hari saya sekitar tiga jam pergi pulang di mobil. Dengan saya memutuskan untuk tidak bekerja di pusat kota Jakarta pada saat usia produktif; kepadatan lalu lintas Jakarta telah berkurang satu mobil setiap hari; 15 liter bensin dihemat setiap hari; sekian CO2 terkurangi.
Bila langkah ini diikuti oleh seribu orang, maka kepadatan lalu lintas Jakarta akan berkurang secara significant. Apalagi kalau yang mengikutinya 1 juta orang. Maka inilah menurut saya salah satu cara Jakarta melawan kemacetan dan polusi udara. Bukan hanya kemacetan dan bahan bakar yang dihemat, tetapi juga dari makanan dan pakaian.
Bila Anda bekerja di kantor – ongkos makan siang Anda cenderung jauh lebih mahal ketimbang keluarga Anda yang di rumah. Pakaian juga demikian, bila Anda eksekutif secara berkala Anda harus membeli baju baru, dasi dan bahkan jas untuk bekerja. Ini semua tidak Anda perlukan bila Anda pekerja Digital Nomad. Bekerja dengan sarungan-pun jadilah, karena sarung ini adalah salah satu pakain nasional kita yang selama ini termarginalkan.
Apakah ini mudah dilakukan ?, mudah sih tidak karena menyangkut perubahan budaya yang luar biasa. Tetapi bagi pimpinan-pimpinan kantor yang berwawasan kedepan, bisa jadi inilah peluang Anda untuk membawa perusahan atau instansi Anda untuk unggul di era teknologi yang mau tidak mau kita telah memasukinya. Bila Anda tidak segera mulai, sedangkan pesaing Anda memulai lebih dahulu – kemungkinan besar Anda akan kalah bersaing dalam efisiensi dan akan ditinggalkan oleh tenaga-tenaga terbaik Anda. Mengapa demikian ?.
Kalau ditanya diri kita masing-masing; besar kemungkinan kita sebenarnya ingin bekerja secara bebas tidak dikungkung tempat dan waktu. Nah kalau tenaga terbaik Anda ditawari oleh pesaing Anda dengan system kerja bebas semacam ini, besar peluangnya dia akan terpengaruh. Sebaliknya kecil sekali kemungkinan Anda bisa merekrut tenaga-tenaga yang sudah terbiasa kerja secara Nomad untuk nongkrong di kantor tertentu pada jam tertentu.
Apakah pekerjaan ala Digital Nomad ini hanya cocok untuk pekerjaan seperti penulis, wartawan, designer, programmer dan sejenisnya ?; Sebelum saya ikut menerjuninya dahulu saya juga berpendapat demikian. Namun setelah saya bener-bener terjun di dalamnya; ternyata bekerja dengan model Digital Nomad, dapat pula dilakukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang dahulu tidak terbayangkan – toko emas –pun seperti GeraiDinar dapat dijalankan fully secara Digital Nomad. Kadang saya bekerja di rumah, kadang di Masjid, kadang di Mall; kadang di Mobil bahkan sering dari kandang kambing di Jonggol yang sudah internet ready.
Pekerjaan seperti yang Anda lakukan sekarang-pun sangat mungkin ditangani secara Digital Nomad bila Anda (dan atasan Anda bagi yang punya atasan) mau berpikir serius. Hampir seluruh pekerjaan kantoran pada umumnya, bisa dilakukan oleh para Digital Nomad sekarang; hanya sebagain kecil saja yang belum bisa dilakukan seperti pekerjaancustomer services, dan pekerjaan lain yang membutuhkan kehadiran fisik – tetapi inipun jumlahnya akan terus menurun sejalan dengan kemajuan teknologi.
Apakah Anda siap untuk pekerjaan Digital Nomad ini ?, tes-nya sederhana saja. Drive atau penggerak produktifitas Anda ada dalam diri Anda atau ada diluar diri Anda ?. Bila Anda memiliki self drive untuk bekerja optimal tanpa harus di tongkrongi atasan Anda ; maka insyallah Anda siap untuk memasuki jenis pekerjaan para Digital Nomad.
Siapa sih yang tidak ingin bekerja deket rumah, bisa mengatur waktu secara fleksibel, bisa memiliki quality time untuk keluarga…?; lebih-lebih bagi kaum wanita. Dengan Digital Nomad Anda bisa berkarir sampai manapun – tanpa harus meninggalkan fitrah ke-ibu-an Anda untuk dekat dan mendidik anak-anak Anda kapan-pun mereka membutuhkannya. Insyaallah… |
Rabu, 24 Februari 2010
Digital Nomad : Generasi Pekerja Baru…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar